Sabtu, 09 Maret 2019

Video Call


VIDEO CALL

Di sebuah rumah kos yang sederhana, egi dan bejo sedang berduduk-duduk santai sambil ngemil keripik dan berbincang-bincang ria. Mereka sangat menikmati malam-malam awal bulan yang merupakan surga sementara bagi kebanyakan anak kos. Diawal bulan mereka bisa menikmati makanan-makanan harga-harga ekonomi tingkat tinggi yang sudah diprediksi tidak akan mereka rasakan pada akhir bulan.
Bejo yang sedang asik memainkan handphone ditangannya dikejutkan dengan sebuah panggilan video yang membuat handphone miliknya bergetar-getar. Setelah dilihat ternyata panggilan itu adalah ibu bejo. Kemudian bejo-pun menjawab panggilan itu dengan wajah gembira.
“assalamualaikum emak?”
“waalaikumsalam, udah makan jo”
“Alhamdulillah udah mak, ini bejo sekarang juga lagi ngemil keripik.”
“ohhh…. He…at….he….at…os..aa…yaa”
“haaaaa. Apa bu? Nggak denger!”
“hiya…ci….at…oo…zztt…zzttt”.
Kemudian panggilan video dari ibu bejo-pun terputus dan ada tulisan “menyambungkan lagi” dilayar handphone-nya serta terdengar suara “beep-beep”. Ternyata koneksi internet di kampung halaman bejo kurang bagus. Bejo-pun berdiri dari duduk nya dan mondar-mandir sambil mengangkat tinggi-tinggi handphone nya berharap panggilan video dengan ibunya bisa tersambung kembali. Egi yang merasa risih dengan tingkah bejo hanya menatap ke arah bejo yang mordar mandir sehingga membuat kepalanya ikut menoleh ke kanan dan ke kiri.
“lu ngapain sih jo? Mondar mandir nggak jelas gitu? Duduk aja sini, entar juga kesambung lagi kok, lu nggak malu dilihatin orang lewat?, daripada begitu sekalian aja lu lari marathon keliling ini kampung, mana tau bisa nyambung itu panggilan”.
“daripada lari marathon keliling kampung mending gua lari langsung ke kampung gua, biar bisa langsung ngomong sama emak gua”.
Egi yang tidak tau mau menjawab apa terhadap pernyataan bejo langsung mengeluarkan ekspresi kesal sambil terus makan kripik yang ada di dalam toples di atas meja. Bahkan sangking kesalnya ia langsung mengambil toples tersebut dan memeluknya seakan takut di ambil orang. Bejo-pun kembalu duduk di sebelah egi sembari melihat handphone miliknya. Tak lama kemudian pangglilan video bersama ibunya pun tersambung kembali. Melihat hal tersebut bejo langsung menyapa ibunya kembali. Bahkan karena takut ibunya tidak mendengar sapaannya karena koneksi yang lelet tanpa sadar bejo mengeluarkan suara bagai berteriak di pinggir laut yang sunyi. Bejo sampai tidak mengabaikan orang-orang yang lalu lalang lewat di depan kos-kosannya berhenti sejenak karena memperhatikan dirinya.
“halo mak? Bisa denger suara bejo nggak?”
“iya jo, bisa!  Tadi kok gambarnya macet-macet ya? Omonganmu juga nggak jelas?! Bikin emak pusing aja”.
“hehe, itu tadi koneksinya lambat mak, maklum koneksi internet di kampung kita kan lelet banget kayak kura-kura encok!”
Kemudian ibunya bejo hanya diam, tidak ada omongan apapun yang diucapkannya. Bejo-pun kembali bingung dengan situasi yang terjadi.
“aduh ini kenapa lagi sih!, halo mak? Mak?” Teriak bejo ke layar handphone yang berada di genggamannya.
“sabar.. Itu panggilannya masih loading” ledek egi kepada bejo.
            Cukup lama bejo menunggu respon dari ibunya. Dia hanya bisa memandangi wajah ibunya di layar handphone yang seolah-olah melihat foto karena videonya tidak bergerak. “huhhhhh” nafas bejo panjang menahan sabar. Tak lama kemudian terdengan suara ibunya bejo dari handphone.
“iya ya, bener juga. Kemarin emak juga nelpon bapakmu susah. Gara-gara koneksinya keputus-putus”. Jawab ibu bejo dengan suaranya yang agak terputus-putus tapi masih lumayan jelas.
“yaudah, mendingan sekarang emak beres-beres aja, kita pindah ke kota”. Kata bejo kepada emaknya. “di kota kan enak mak, disini deket pasar, kita bisa jalan-jalan ke mall, banyak makanan juga”. Terang bejo kepada emaknya.
“bawa uang dari mana jo jo, untuk makan aja susah, kok mau pindah ke kota. Bisa-bisa kita jadi gembel semua disana. Emangnya kamu udah bosen ya kuliah?, mau jadi gembel aja?” Tanya ibu bejo kepada bejo dengan wajah serius. Keluarga bejo memang bukan keluarga kaya. Ayahnya hanya seorang pedagang ikan keliling dan ibunya hanya bekerja sebagai buruh pabrik rumahan. Bagi mereka saat ini, bisa menguliahkan bejo pun mereka sudah sangat bersyukur.
“ya udah deh mak, karena bejo masih pingin kuliah dan bejo juga nggak mau jadi gembel, udahin aja ya bicaranya, entar kuota bejo abis”.
Akhirnya bejo mengakhiri pembicaraan dengan ibunya. Ia sedikit kecewa karena tidak bisa mengobrol panjang dengan sang ibu yang sudah tidak pernah dijumpainya beberapa bulan terakhir. Ia berharap semoga ketika ia sukses nanti ia bisa membangun rumah di kota dan membawa ibu dan ayahnya di kampung untuk tinggal bersamanya. sehingga ia tidak perlu repot berurusan dengan koneksi internet yang lelet ketika hendak bersua dengan keluarga tercinta.

story by :
navylibrary

Sabtu, 27 Oktober 2018

"Bulir Kasih"

"Bulir Kasih"
A Story By : Navylibrary


 

Pagi ini adalah pagi yang sangat indah, langit menunjukkan pesona warna birunya yang sempurna dipadukan dengan awan-awan lembut berwarna putih yang sangat sedap dipandang mata. Sejenak ku hirup udara segar pagi hari dengan memejamkan mataku dan tersenyum manis mensyukuri nikmat tuhan yang maha kuasa. Sambil berjalan dengan membawa tas besar aku duduk di kursi ruang tunggu penumpang bus.
Sedikit demi sedikit kulahap bekal yang kubuat tadi pagi untuk mengisi perutku yang keroncongan karena tidak sempat untuk sarapan, hanya sedikit nasi dengan telur mata sapi dan kerupuk opak ubi yang baru saja kubeli di warung dekat kos-kosan yang aku tinggali. Namun aku merasa sangat bahagia karena hari ini adalah hari yang sangat ku nantikan. Tidak sabar rasanya untuk segera sampai ke kampung dan bertemu emak dan bapak dirumahku yang sederhana namun terasa sangat nyaman.
 “geser dikit nak”
Kutolehkan pandanganku kesamping kanan yang ternyata suara itu adalah suara seorang nenek-nenek tua yang ingin duduk disebelahku karena kursi lain sudah banyak yang menduduki. “oh iya nek, silahkan duduk” jawabku sambil tersenyum dan menggeser tas besarku yang kuletakkan dikursi sebelah kanan tempatku duduk.
Kemudian nenek itu duduk disebelahku dengan sangat pelan-pelan sekali karena tubuh tua rentanya yang tak mampu lagi bergerak cepat. Ada sedikit rasa iba dalam benakku namun aku tak mau menunjukkan nya karena takut membuat nenek itu tersinggung. Seketika aku teringat kepada almarhumah nenekku yang meninggal dunia ketika aku sedang diperantauan.
Saat itu adalah hari dimana aku masih menjadi mahasiswi baru dan masih banyak kegiatan yang harus aku jalani. Lagipula jarak dari kota ke kampungku lumayan jauh sehingga kedua orang tuakupun berpesan untuk tidak perlu pulang dan aku mengiyakan saja karena kupikir jikalau aku pulangpun pasti aku tidak akan sempat melihat jenazah nenek.
Tanpa kusadari air mataku menetes membasahi pipiku kemudian langsung ku usap dengan kerudung biru yang aku kenakan. Terlintas kembali bayang-bayang sang nenek yang turut mengantarku ke kota ketika sedang masa orientasi. Terbayang raut wajah nenekku yang menangis haru ketika kembali pulang kekampung meninggakanku dikota sendirian. “jaga diri baik-baik kamu disini sendirian, nanti nenek udah nggak disini, orang tuamu dan paman-pamanmu juga nggak disini”. Masih terngiang jelas kata-kata nenekku saat itu yang tanpa pernah kubayangkan jika itu adalah pesan terakhir dalam hidupnya untukku. Ternyata si nenek memperhatikanku sedari tadi lalu dia tersenyum.
“kok nangis nak, Nangisin apa?”
“nggan nangisin apa-apa kok nek” jawabku kepadanya.
Kemudian nenek itu membuka tas berwarna cokelat tua yang ia bawa. Dari warnanya terlihat bahwa tas itu sudah sangat lama ia gunakan karena banyak terdapat tambal-tambal jahitan kasar dari benang yang warnanya tak sama. “mau permen?”, ia menyodorkan tangannya yang berisi gula-gula kecil kepadaku. Aku tak langsung mengambil permen tersebut. Aku hanya bisa terdiam antara bingung dan sedih yang tengah bercampur aduk dikepalaku.
“kalau orang lagi sedih itu harus dikasih makanan yang manis-manis, kayak cucu nenek kalau dikasih permen dia bakalan senang sekali”.
“terima kasih banyak nek”.
Ku ambil permen tersebut dari tangan tua rentanya yang gemetaran. Lalu aku tersenyum karena merasa sedikit terhibur dengan pemberian kecil yang diberikan nenek itu kepadaku. Sedikit kuperhatikan wajahnya yang keriput tersenyum manis dengan matanya yang sayu.
“memangnya cucu nenek umurnya berapa tahun? Tanyaku kepadanya sambil membuka bungkus permen yang mengeluarkan bunyi khas plastik kresek ketika diremas.
“cucu nenek umurnya tiga tahun, dia sangat lucu sekali. Nenek sangat seneng kalau ada dia dirumah, rumah nenek jadi rame. Tapi kalau ngambek mbujuknya kok susah, harus dibawa jalan-jalan dulu sama kakeknya naik sepeda ontel baru bisa meneng”. Nenek itu terlihat sangat senang ketika menceritakan cucunya. Sambil tertawa dia menceritakan tingkah-tingkah konyol cucunya yang masih balita ketika mereka bermain bersama-sama.
Aku hanya bisa tersenyum dan turut tertawa ketika mendengarkan nenek itu tanpa berhenti bercerita tentang cucunya. Namun tidak ada kejenuhan dalam hatiku, malahan aku merasa senang dan terhibur dengan cerita-cerita darinya.
“jadi sekarang nenek ini mau ngunjungi cucu nenek ya? Tanyaku kepadanya.
“enggak, nenek sekarang mau pulang ke rumah nenek dikampung”
“loh, kok nenek naik bus, anak nenek nggak nganterin?”
“enggak, anak nenek nggak bisa nganterin nenek, soalnya anak nenek lagi sibuk kerja jadi nenek disuruh pulang pakek bus. Tadi nenek dianter sampek depan terminal kok”. Sambil mendekap tas tuanya nenek itu berkata “sebenernya nenek masih pingin disini dirumah anak nenek, biar bisa main-main terus sama cucu nenek, kalok balik kerumah sepi sekali, nenek jadi bosen kalok dirumah”.
Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum dengan sedikit menghiburnya. Aku tidak mau bertanya terlalu jauh karena tidak mau membuat nenek itu bertambah sedih. Aku sudah paham kenapa anak nenek itu melakukannya, tentu saja karena aktivitas pekerjaannya yang sangat padat. Namun aku merasa sedikit tidak setuju jika harus membiarkan seorang nenek-nenek begini harus pulang sendirian.
Tak lama kemudian terdengar suara panggilan untuk bus yang kami tumpangi akan segera berangkat. Aku dan nenek pun langsung berdiri untuk masuk ke dalam bus sambil menuntun nenek itu untuk barjalan naik ke dalam bus. Sampai di dalam bus kubantu ia untuk mencari tempat duduknya yang ternyata ia duduk di depanku berjarak dua kursi dari tempat dudukku.
“udah, nenek duduk disini, saya duduknya disitu”.
“iya, terimakasih banyak ya nak”.
Setelah membantu nenek itu untuk duduk, akupun langsung duduk dikursiku. Selang beberapa waktu kemudian, bus yang kami tumpangipun berangkat perlahan-lahan meninggalkan terminal. Sesekali ku lirik kearah nenek itu untuk melihat mungkin ada sesuatu yang ia butuhkan. Namun sepertinya ia tidak membutuhkan apa-apa, ia terlihat sedang tertidur lelap mungkin karena kelelahan ketika menunggu bus tadi pikirku. Sejenak kusenderkan kepalaku ke punggung kursi sambil melihat kejendela luar. Laju bus yang tidak terlalu kencang membuatku bisa melihat ke jalan sekitar yang kami lalui.

***
Suara-suara bising penumpang membangunkanku dari tidurku. Perlahan ku kucek mataku yang pandangannya kabur karena baru saja tertidur lelap. “oh, ternyata sudah sampai”. Sesaat kulirik kearah nenek yang bersamaku tadi. Ia sudah tidak ada lagi ditempat duduknya, mungkin ia sudah terlebih dahulu keluar dari dalam bus. Aku pun langsung bangun sambil membawa tas besarku yang terasa seperti semakin berat namun aku masih kuat untukk mengangkatnya.
Ketika turun dari bus, kulihat nenek yang tadi bersamaku dan akupun langsung menghampirinya. “nek, setelah ini nenek mau kemana?, tanyaku kepadanya.
“oh, nenek mau langsung pulang kerumah, ini lagi nyari becak tapi kok nggak ada ya?. Nenek itu terlihat bingung sambil menoleh kekanan dan kekiri melihat sekeliling mungkin ada becak yang akan menawarkan jasa untuk mengantarnya pulang.
Untung saja saat itu kami tidak terlalu lama menunggu karena tak menunggu waktu lama becak yang kami cari pun terlihat melintas tak jauh dari kami.
“becak!” Teriak nenek sambil melambai-lambaikan tangan kanannya kepada si tukang becak yang langsung berhenti tepat didepan kami.
“ayo naik, mau kemana nek?” Kata lelaki paruh baya yang membawa becak tanpa turun dari becaknya.
“ke gang mawar ya, itu ke arah sana, nenek duluan ya, hati-hati kalau pulang nanti, kalok sempat mampir juga kerumah nenek ya, rumah nenek didepan sana di depan kantor lurah”. Sambil menunjuk kearah rumahnya kutuntuk nenek itu naik keatas becak yang tempat duduknya agak tinggi. “iya nek, nanti kapan-kapan saya pasti mampir”. Nenek itu mengucapkan selamat tinggal dan pergi perlahan-lahan dibawa becak yang ditumpanginya.
“kasihan sekali nenek itu” dalam pikirku, aku menghela nafas panjang sambil berfikir jika aku sudah bekerja nanti aku tidak ingin membiarkan kedua orang tuaku tinggal sendirian seperti itu, walaupun mungkin nanti aku tinggal jauh dari orang tuaku, aku berencana untuk sesering mungkin mengunjungi mereka walaupun hanya sebentar. Karena bahagia kita adalah bahagia kedua orang tua kita yang telah merawat kita sedari bayi yang hanya suka menagis hingga saat kita sukses nanti.

“berikanlah kasih sayangmu kepada orang tuamu 
selagi engkau masih bisa memberikannya kepada mereka
jangan menunggu waktu,
karena waktu tak akan pernah bisa memberikan janji berapa lama engkau dapat bersua"

"Bulir Kasih"
A Story By : Navylibrary