"Bulir Kasih"
A Story By : Navylibrary
Pagi
ini adalah pagi yang sangat indah, langit menunjukkan pesona warna birunya yang
sempurna dipadukan dengan awan-awan lembut berwarna putih yang sangat sedap
dipandang mata. Sejenak ku hirup udara segar pagi hari dengan memejamkan mataku
dan tersenyum manis mensyukuri nikmat tuhan yang maha kuasa. Sambil berjalan
dengan membawa tas besar aku duduk di kursi ruang tunggu penumpang bus.
Sedikit
demi sedikit kulahap bekal yang kubuat tadi pagi untuk mengisi perutku yang
keroncongan karena tidak sempat untuk sarapan, hanya sedikit nasi dengan
telur mata sapi dan kerupuk opak ubi yang baru saja kubeli di warung dekat
kos-kosan yang aku tinggali. Namun aku merasa sangat bahagia karena hari ini
adalah hari yang sangat ku nantikan. Tidak sabar rasanya untuk segera sampai
ke kampung dan bertemu emak dan bapak dirumahku yang sederhana namun terasa sangat nyaman.
“geser dikit nak”
Kutolehkan
pandanganku kesamping kanan yang ternyata suara itu adalah suara seorang
nenek-nenek tua yang ingin duduk disebelahku karena kursi lain sudah banyak
yang menduduki. “oh iya nek, silahkan duduk” jawabku sambil tersenyum dan menggeser
tas besarku yang kuletakkan dikursi sebelah kanan tempatku duduk.
Kemudian
nenek itu duduk disebelahku dengan sangat pelan-pelan sekali karena tubuh tua
rentanya yang tak mampu lagi bergerak cepat. Ada sedikit rasa iba dalam benakku
namun aku tak mau menunjukkan nya karena takut membuat nenek itu tersinggung. Seketika
aku teringat kepada almarhumah nenekku yang meninggal dunia ketika aku sedang
diperantauan.
Saat
itu adalah hari dimana aku masih menjadi mahasiswi baru dan masih banyak
kegiatan yang harus aku jalani. Lagipula jarak dari kota ke kampungku lumayan
jauh sehingga kedua orang tuakupun berpesan untuk tidak perlu pulang dan aku
mengiyakan saja karena kupikir jikalau aku pulangpun pasti aku tidak akan
sempat melihat jenazah nenek.
Tanpa
kusadari air mataku menetes membasahi pipiku kemudian langsung ku usap dengan
kerudung biru yang aku kenakan. Terlintas kembali bayang-bayang sang nenek yang
turut mengantarku ke kota ketika sedang masa orientasi. Terbayang raut wajah
nenekku yang menangis haru ketika kembali pulang kekampung meninggakanku dikota
sendirian. “jaga diri baik-baik kamu disini sendirian, nanti nenek udah nggak
disini, orang tuamu dan paman-pamanmu juga nggak disini”. Masih terngiang jelas
kata-kata nenekku saat itu yang tanpa pernah kubayangkan jika itu adalah pesan
terakhir dalam hidupnya untukku. Ternyata si nenek memperhatikanku sedari tadi lalu dia
tersenyum.
“kok
nangis nak, Nangisin apa?”
“nggan
nangisin apa-apa kok nek” jawabku kepadanya.
Kemudian
nenek itu membuka tas berwarna cokelat tua yang ia bawa. Dari warnanya terlihat
bahwa tas itu sudah sangat lama ia gunakan karena banyak terdapat tambal-tambal
jahitan kasar dari benang yang warnanya tak sama. “mau permen?”, ia menyodorkan
tangannya yang berisi gula-gula kecil kepadaku. Aku tak langsung mengambil
permen tersebut. Aku hanya bisa terdiam antara bingung dan sedih yang tengah bercampur
aduk dikepalaku.
“kalau
orang lagi sedih itu harus dikasih makanan yang manis-manis, kayak cucu nenek
kalau dikasih permen dia bakalan senang sekali”.
“terima
kasih banyak nek”.
Ku
ambil permen tersebut dari tangan tua rentanya yang gemetaran. Lalu aku
tersenyum karena merasa sedikit terhibur dengan pemberian kecil yang diberikan
nenek itu kepadaku. Sedikit kuperhatikan wajahnya yang keriput tersenyum manis
dengan matanya yang sayu.
“memangnya
cucu nenek umurnya berapa tahun? Tanyaku kepadanya sambil membuka bungkus
permen yang mengeluarkan bunyi khas plastik kresek ketika diremas.
“cucu
nenek umurnya tiga tahun, dia sangat lucu sekali. Nenek sangat seneng kalau ada
dia dirumah, rumah nenek jadi rame. Tapi kalau ngambek mbujuknya kok susah,
harus dibawa jalan-jalan dulu sama kakeknya naik sepeda ontel baru bisa meneng”.
Nenek itu terlihat sangat senang ketika menceritakan cucunya. Sambil tertawa
dia menceritakan tingkah-tingkah konyol cucunya yang masih balita ketika mereka bermain bersama-sama.
Aku
hanya bisa tersenyum dan turut tertawa ketika mendengarkan nenek itu tanpa
berhenti bercerita tentang cucunya. Namun tidak ada kejenuhan dalam hatiku,
malahan aku merasa senang dan terhibur dengan cerita-cerita darinya.
“jadi
sekarang nenek ini mau ngunjungi cucu nenek ya? Tanyaku kepadanya.
“enggak,
nenek sekarang mau pulang ke rumah nenek dikampung”
“loh,
kok nenek naik bus, anak nenek nggak nganterin?”
“enggak,
anak nenek nggak bisa nganterin nenek, soalnya anak nenek lagi sibuk kerja jadi
nenek disuruh pulang pakek bus. Tadi nenek dianter sampek depan terminal kok”. Sambil
mendekap tas tuanya nenek itu berkata “sebenernya nenek masih pingin disini
dirumah anak nenek, biar bisa main-main terus sama cucu nenek, kalok balik
kerumah sepi sekali, nenek jadi bosen kalok dirumah”.
Aku
hanya bisa mengangguk dan tersenyum dengan sedikit menghiburnya. Aku tidak mau
bertanya terlalu jauh karena tidak mau membuat nenek itu bertambah sedih. Aku sudah
paham kenapa anak nenek itu melakukannya, tentu saja karena aktivitas
pekerjaannya yang sangat padat. Namun aku merasa sedikit tidak setuju jika
harus membiarkan seorang nenek-nenek begini harus pulang sendirian.
Tak
lama kemudian terdengar suara panggilan untuk bus yang kami tumpangi akan
segera berangkat. Aku dan nenek pun langsung berdiri untuk masuk ke dalam bus sambil
menuntun nenek itu untuk barjalan naik ke dalam bus. Sampai di dalam bus
kubantu ia untuk mencari tempat duduknya yang ternyata ia duduk di depanku
berjarak dua kursi dari tempat dudukku.
“udah,
nenek duduk disini, saya duduknya disitu”.
“iya,
terimakasih banyak ya nak”.
Setelah
membantu nenek itu untuk duduk, akupun langsung duduk dikursiku. Selang beberapa
waktu kemudian, bus yang kami tumpangipun berangkat perlahan-lahan meninggalkan
terminal. Sesekali ku lirik kearah nenek itu untuk melihat mungkin ada sesuatu
yang ia butuhkan. Namun sepertinya ia tidak membutuhkan apa-apa, ia terlihat
sedang tertidur lelap mungkin karena kelelahan ketika menunggu bus tadi
pikirku. Sejenak kusenderkan kepalaku ke punggung kursi sambil melihat kejendela luar. Laju
bus yang tidak terlalu kencang membuatku bisa melihat ke jalan sekitar yang
kami lalui.
***
Suara-suara
bising penumpang membangunkanku dari tidurku. Perlahan ku kucek mataku yang
pandangannya kabur karena baru saja tertidur lelap. “oh, ternyata sudah sampai”.
Sesaat kulirik kearah nenek yang bersamaku tadi. Ia sudah tidak ada lagi
ditempat duduknya, mungkin ia sudah terlebih dahulu keluar dari dalam bus. Aku pun
langsung bangun sambil membawa tas besarku yang terasa seperti semakin berat
namun aku masih kuat untukk mengangkatnya.
Ketika
turun dari bus, kulihat nenek yang tadi bersamaku dan akupun langsung
menghampirinya. “nek, setelah ini nenek mau kemana?, tanyaku kepadanya.
“oh,
nenek mau langsung pulang kerumah, ini lagi nyari becak tapi kok nggak ada ya?.
Nenek itu terlihat bingung sambil menoleh kekanan dan kekiri melihat sekeliling
mungkin ada becak yang akan menawarkan jasa untuk mengantarnya pulang.
Untung
saja saat itu kami tidak terlalu lama menunggu karena tak menunggu waktu lama
becak yang kami cari pun terlihat melintas tak jauh dari kami.
“becak!”
Teriak nenek sambil melambai-lambaikan tangan kanannya kepada si tukang becak
yang langsung berhenti tepat didepan kami.
“ayo
naik, mau kemana nek?” Kata lelaki paruh baya yang membawa becak tanpa turun dari
becaknya.
“ke
gang mawar ya, itu ke arah sana, nenek duluan ya, hati-hati kalau pulang nanti,
kalok sempat mampir juga kerumah nenek ya, rumah nenek didepan sana di depan
kantor lurah”. Sambil menunjuk kearah rumahnya kutuntuk nenek itu naik keatas becak
yang tempat duduknya agak tinggi. “iya nek, nanti kapan-kapan saya pasti mampir”.
Nenek itu mengucapkan selamat tinggal dan pergi perlahan-lahan dibawa becak
yang ditumpanginya.
“kasihan
sekali nenek itu” dalam pikirku, aku menghela nafas panjang sambil berfikir
jika aku sudah bekerja nanti aku tidak ingin membiarkan kedua orang tuaku
tinggal sendirian seperti itu, walaupun mungkin nanti aku tinggal jauh dari
orang tuaku, aku berencana untuk sesering mungkin mengunjungi mereka walaupun
hanya sebentar. Karena bahagia kita adalah bahagia kedua orang tua kita yang
telah merawat kita sedari bayi yang hanya suka menagis hingga saat kita sukses
nanti.
“berikanlah
kasih sayangmu kepada orang tuamu
selagi engkau masih bisa memberikannya kepada
mereka
jangan menunggu waktu,
karena waktu tak akan pernah bisa memberikan janji
berapa lama engkau dapat bersua"
"Bulir Kasih"
A
Story By : Navylibrary
Tidak ada komentar:
Posting Komentar