VIDEO
CALL
Di
sebuah rumah kos yang sederhana, egi dan bejo sedang berduduk-duduk santai
sambil ngemil keripik dan berbincang-bincang ria. Mereka sangat menikmati
malam-malam awal bulan yang merupakan surga sementara bagi kebanyakan anak kos.
Diawal bulan mereka bisa menikmati makanan-makanan harga-harga ekonomi tingkat
tinggi yang sudah diprediksi tidak akan mereka rasakan pada akhir bulan.
Bejo
yang sedang asik memainkan handphone ditangannya dikejutkan dengan sebuah
panggilan video yang membuat handphone miliknya bergetar-getar. Setelah dilihat
ternyata panggilan itu adalah ibu bejo. Kemudian bejo-pun menjawab panggilan
itu dengan wajah gembira.
“assalamualaikum
emak?”
“waalaikumsalam, udah makan jo”
“Alhamdulillah udah mak, ini bejo
sekarang juga lagi ngemil keripik.”
“ohhh…. He…at….he….at…os..aa…yaa”
“haaaaa. Apa bu? Nggak denger!”
“hiya…ci….at…oo…zztt…zzttt”.
Kemudian
panggilan video dari ibu bejo-pun terputus dan ada tulisan “menyambungkan lagi”
dilayar handphone-nya serta terdengar suara “beep-beep”. Ternyata koneksi
internet di kampung halaman bejo kurang bagus. Bejo-pun berdiri dari duduk nya
dan mondar-mandir sambil mengangkat tinggi-tinggi handphone nya berharap
panggilan video dengan ibunya bisa tersambung kembali. Egi yang merasa risih
dengan tingkah bejo hanya menatap ke arah bejo yang mordar mandir sehingga
membuat kepalanya ikut menoleh ke kanan dan ke kiri.
“lu
ngapain sih jo? Mondar mandir nggak jelas gitu? Duduk aja sini, entar juga kesambung
lagi kok, lu nggak malu dilihatin orang lewat?, daripada begitu sekalian aja lu
lari marathon keliling ini kampung, mana tau bisa nyambung itu panggilan”.
“daripada
lari marathon keliling kampung mending gua lari langsung ke kampung gua, biar
bisa langsung ngomong sama emak gua”.
Egi
yang tidak tau mau menjawab apa terhadap pernyataan bejo langsung mengeluarkan
ekspresi kesal sambil terus makan kripik yang ada di dalam toples di atas meja.
Bahkan sangking kesalnya ia langsung mengambil toples tersebut dan memeluknya
seakan takut di ambil orang. Bejo-pun kembalu duduk di sebelah egi sembari
melihat handphone miliknya. Tak lama kemudian pangglilan video bersama ibunya
pun tersambung kembali. Melihat hal tersebut bejo langsung menyapa ibunya
kembali. Bahkan karena takut ibunya tidak mendengar sapaannya karena koneksi
yang lelet tanpa sadar bejo mengeluarkan suara bagai berteriak di pinggir laut
yang sunyi. Bejo sampai tidak mengabaikan orang-orang yang lalu lalang lewat di
depan kos-kosannya berhenti sejenak karena memperhatikan dirinya.
“halo mak? Bisa denger suara bejo nggak?”
“iya
jo, bisa! Tadi kok gambarnya macet-macet
ya? Omonganmu juga nggak jelas?! Bikin emak pusing aja”.
“hehe,
itu tadi koneksinya lambat mak, maklum koneksi internet di kampung kita kan
lelet banget kayak kura-kura encok!”
Kemudian
ibunya bejo hanya diam, tidak ada omongan apapun yang diucapkannya. Bejo-pun
kembali bingung dengan situasi yang terjadi.
“aduh
ini kenapa lagi sih!, halo mak? Mak?” Teriak bejo ke layar handphone yang
berada di genggamannya.
“sabar..
Itu panggilannya masih loading” ledek egi kepada bejo.
Cukup lama bejo menunggu respon dari
ibunya. Dia hanya bisa memandangi wajah ibunya di layar handphone yang
seolah-olah melihat foto karena videonya tidak bergerak. “huhhhhh” nafas bejo
panjang menahan sabar. Tak lama kemudian terdengan suara ibunya bejo dari
handphone.
“iya
ya, bener juga. Kemarin emak juga nelpon bapakmu susah. Gara-gara koneksinya
keputus-putus”. Jawab ibu bejo dengan suaranya yang agak terputus-putus tapi
masih lumayan jelas.
“yaudah,
mendingan sekarang emak beres-beres aja, kita pindah ke kota”. Kata bejo kepada
emaknya. “di kota kan enak mak, disini deket pasar, kita bisa jalan-jalan ke
mall, banyak makanan juga”. Terang bejo kepada emaknya.
“bawa
uang dari mana jo jo, untuk makan aja susah, kok mau pindah ke kota. Bisa-bisa
kita jadi gembel semua disana. Emangnya kamu udah bosen ya kuliah?, mau jadi
gembel aja?” Tanya ibu bejo kepada bejo dengan wajah serius. Keluarga bejo
memang bukan keluarga kaya. Ayahnya hanya seorang pedagang ikan keliling dan ibunya
hanya bekerja sebagai buruh pabrik rumahan. Bagi mereka saat ini, bisa
menguliahkan bejo pun mereka sudah sangat bersyukur.
“ya
udah deh mak, karena bejo masih pingin kuliah dan bejo juga nggak mau jadi
gembel, udahin aja ya bicaranya, entar kuota bejo abis”.
Akhirnya
bejo mengakhiri pembicaraan dengan ibunya. Ia sedikit kecewa karena tidak bisa
mengobrol panjang dengan sang ibu yang sudah tidak pernah dijumpainya beberapa
bulan terakhir. Ia berharap semoga ketika ia sukses nanti ia bisa membangun rumah
di kota dan membawa ibu dan ayahnya di kampung untuk tinggal bersamanya.
sehingga ia tidak perlu repot berurusan dengan koneksi internet yang lelet
ketika hendak bersua dengan keluarga tercinta.
story by :
navylibrary
Bagus banget ceritanya.. Aku syuka
BalasHapusThanks, jangan bosen untuk baca cerita-cerita seru di karya navylibrary ya😊
HapusGood
BalasHapusBagus mbak
BalasHapusThanks, jangan bosen baca cerita-cerita seru karya navylibrary ya😊
BalasHapus